Tahun ini Paroki St. Petrus Pekalongan menginjak usia ke-88. Bukan usia yang muda agaknya bagi sebuah paroki dalam berdinamika, ada banyak kisah ada banyak cerita di dalamnya. Menjelang ulang tahun paroki ke-88 ini, panitia HUT yang didalangi oleh tim CFM (Catholic Family Minister) dan Komunitas Priskat (Pria Sejati Katolik) menyiapkan berbagai macam acara. Bapak Gregorius Widodo didapuk menjadi ketua panitia HUT Paroki ke-88, beliau menyebutkan bahwa persiapan perayaan HUT dilakukan sekitar sebulan sebelum, “Kami dipanggil oleh Romo untuk penyusunan kepanitian mulai tanggal 26 September. Memang rencananya acara HUT ini dikemas secara sederhana saja hanya misa syukur dan tumpengan. Acara besar disiapkan nanti untuk HUT Paroki ke-90”, kata Pak Widodo. Menjelang perayaan HUT panitia mengadakan perlombaan, yakni lomba Mode Show dan Lomba Pesan Berantai. Lomba Pesan Berantai dilaksanakan sebagai wujud pembelajaran untuk menangkal berita hoax. Sedangkan Lomba Mode Show untuk menunjukkan bahwa dalam banyak perbedaan kita masih bisa mengekspresikan diri. Dua perlombaan tersebut dilaksanakan setiap weekend selama dua minggu.

Tepat pada Hari Kamis, 1 November 2018 jam enam petang dirayakanlah Ekaristi syukur HUT Paroki St. Petrus Pekalongan ke-88 sekaligus perayaan Hari Raya Semua Orang Kudus dan disatukan juga dengan perayaan Hari Pangan yang jatuh pada tanggal 16 Oktober. Satu setengah jam sebelum misa dimulai umat sudah mulai memenuhi bagian dalam Gereja. Hiasan-hiasan dekorasi berupa buah-buahan dan bunga yang ada di sekitar altar menarik perhatian umat. Perayaan Ekaristi dilaksanakan secara konselebrasi dengan dipimpin oleh Sekretaris Keuskupan Purwokerto, Romo FX. Bagyo Purwasantosa, Romo Martinus Ngarlan, Romo Martinus Maryoto dan Romo Vincentius Suranto. Kedatangan Romo Bagyo sebagai pengganti Mgr. Christophorus Tri Harsono. Romo Martinus Ngarlan selaku Pastor Paroki menyatakan permohonan maaf kepada umat Paroki Pekalongan atas ketidakhadiran Bapak Uskup. Romo FX Bagyo pun turut menjelaskan bahwa Uskup Mgr. Tri Harsono berhalangan hadir karena mengikuti misa tahbisan imam di Bogor. Ketidakhadiran Uskup lantas menimbulkan kekecewaan bagi umat Pekalongan, “Yaah sayang sekali Bapak Uskup gak hadir, padahal sudah dinanti-nantikan. Kan sudah diumumkan jauh hari bahwa misa HUT ada uskup, eh pas hari H gak ada” kata Adriana, salah satu umat yang ikut dalam misa HUT paroki.

Namun, kekecewaan umat tidak lantas berlama-lama. Perayaan Ekaristi tetap berlanjut dengan meriah, paduan suara gabungan dari berbagai kelompok koor membuat perayaan ekaristi semakin semarak. Beberapa anggota dari pemusik pun ada yang beragama lain ikut serta pula menyumbangkan talentanya untuk merayakan HUT Paroki. Bapak F. Suprapto selaku mantan ketua DPP tahun 2013-2016 memberikan komentar positif mengenai perayaan HUT Paroki Pekalongan ini, “Saya melihat bahwa HUT tahun ini sungguh luar biasa, karena begitu baik persiapannya, dan pendampingan dari DPP juga sangat melekat, dan ada terobosan-terobosan baru disana (perayaan HUT). Terlebih ada kaitannya dengan berita yang tersiar bahwa misa akan dipimpin oleh Bapak Uskup, sehingga antusias warga Katolik sungguh luar biasa, anemonya banyak sekali karena ingin memperoleh berkat dari Bapak Uskup di ulang tahun Gereja ini.” Bapak Suprapto juga menyampaikan bahwa peran dari Romo Bagyo dan romo-romo Paroki juga luar biasa karena bisa menjawab pertanyaan umat tentang ketidakhadiran Bapak Uskup. Di satu sisi ada umat yang kecewa, namun dengan homili dari Romo Bagyo, umat tidak kecewa lagi bahkan senang.

Dalam homilinya, Romo Bagyo menyampaikan, “Lebih penting bagi kita untuk merenungkan jati diri paroki kita saat perayaan HUT. Ada saatnya kita disibukkan oleh berbagai macam kegiatan, namun ada saatnya pula kita sejenak merenungkan tentang jati diri kita (sebagai paroki)”. Jati diri paroki pekalongan sebagai gereja yang dimaksud oleh Romo Bagyo adalah jati diri sebagai murid-murid Kristus yang dipanggil kepada kekudusan (1 Petrus 1:15). Paroki adalah kumpulan orang-orang yang menolong satu sama lain untuk mencapai cita-cita kekudusan tersebut. Selain itu Romo Bagyo juga mengajak umat agar menghormati keberagaman, “Kita diajak menjadi pelopor toleransi. Tuhan menghendaki adanya keberagaman agar kita berlomba-lomba di dalam kebaikkan.” Terkait dengan Hari Pangan Sedunia, Romo Bagyo juga mengajak umat agar lebih menghargai hasil bumi dengan tidak membuang-buang makanan dan tidak membuang sampah sembarangan. “Di Hari Ulang Tahun Paroki kita ini, kita diajak untuk mencapai kekudusan, kekudusan itu dapat kita capai jika kita berani berjuang, melewati setiap kesulitan dan tantangan hidup dengan tetap setia dan menghargai setiap pribadi dalam keberagaman.

Selain perayaan ekaristi, rasa syukur umat pekalongan juga diungkapkan dengan pemotongan tumpeng yang diwakili oleh Romo Sekjen dan Romo Paroki Pekalongan di area parkir gereja. Umat setiap Lingkungan dan Stasi pun turut menyumbangkan tumpengnya untuk dinikmati bersama-sama. Sukacita dan kemeriahan masih bisa dirasakan oleh seluruh umat yang hadir. Harapan-harapan dari umat untuk Paroki St. Petrus Pakalongan kedepannya antara lain, diberinya kesempatan bagi kaum muda untuk ikut ambil bagian dalam inkulturasi, perpustakaan paroki, serta di kepanitiaan-kepanitiaan lainnya. Terimakasih Panitia HUT yang telah mempersiapkan, DPP, Tim Liturgi, Tim Hias Altar, Koor, Keamanan, Konsumsi dan juga Komsos. Semoga harapan dan cita-cita kita dapat terwujud dalam proses hidup menggereja yang harus kita lalui bersama. Selamat HUT Paroki Pekalongan ke-88!