Purwokerto-Hari ini, Minggu (30/7) adalah hari pertama seluruh orang muda Katolik se-Asia berkumpul dibeberapa keuskupan di Indonesia untuk mengikuti Days in Diocese (live in). Paroki Pekalongan mengutus enam orang OMK sebagai perwakilan peserta AYD, antara lain Ahta Prayinda, Agustina Nita, Gabriel Calvin, Aaron Nathaniel, Pamela Florencia, dan Gloria Fransisca. Sejak jam 6 pagi, peserta AYD perwakilan Paroki Pekalongan sudah berkumpul di Gereja Paroki. Setelah sarapan dan berdoa bersama dengan diberkati oleh Romo Tri Kusuma, kami melaju ke Purwokerto. Kami sampai di Gedung Pascalis Hall Katedral Kristus Raja, Purwokerto pukul 10.00. Setelah semua peserta AYD dari berbagai Paroki di Keuskupan Purwokerto tiba di Pascalis Hall (ada 54 peserta) kami lalu dikumpulkan untuk registrasi dan gladi bersih untuk pentas seni yang akan diadakan pada misa penutupan DID tanggal 1 Agustus. Menjelang sore hari setelah selesai gladi, kami mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Participans dari Jepang dan Thailand yang akan turut dalam DID di Purwokerto. Ada 27 peserta Jepang dan 20 peserta Thailand. Beberapa diantaranya ada yang romo, uskup, frater, dan suster. Sekitar pukul 15.30 para peserta dari Jepang dan Thailand tiba di Keuskupan Purwokerto. Kami peserta AYD kontingen Keuskupan Purwokerto bersama dengan beberapa Romo, Administrator Diosesan, mentor, dan panitia menyambut mereka dengan iringan musik tradisional kentongan yang dibawakan oleh murid-murid SMP Susteran. Acara lalu dilanjutkan dengan misa pembukaan DID bersama umat pada pukul 17.00 WIB. Misa selebrasi dipimpin oleh Administrator Diosesan, Romo Tarcisius Puryatno, bersama dengan Romo Boni dan Romo Kristiadi. Hadir pula uskup dari Jepang, Bishop Bernard Taici Tatsuya. Setelah misa selesai, dilanjutkan acara ramah tamah di Pascalis Hall sambil penyerahan peserta AYD kepada orang tua angkat. Saya mendapat kesempatan untuk DID bersama keluarga Pak Handoko di Paroki St. Yosep, dengan seorang partisipan dari Jepang yang bernama Shion Katayama. Shion tidak terlalu lancar berbahasa Inggris, beruntung putri dari Pak Handoko cukup fasih berbahasa Jepang. Jadi masalah komunikasi dapat terselesaikan. Keluarga Pak Handoko sangat ramah dan baik sekali, malam hari sepulang dari Keuskupan, kami sempat dibuatkan air hangat untuk mandi. Putrinya yang nomer dua yang kebetulan sedang di rumah juga sangat ramah dan bisa berbahasa Jepang pula. Obrolan menjadi semakin seru dan kocak saat kami mencampur adukan antara bahasa jepang dengan inggris dan bahasa indonesia. Tak terasa kami mengobrol hampir larut malam, Ibu Handoko mengingatkan kami untum segera beristirahat karena esoknya kami akan ke Wonosobo dan acara akan padat. Sebelum beranjak tidur, saya mengajak keluarga Pak Handoko untuk doa malam dalam bahasa inggris. Hari ini berlalu dengan sangat menyenangkan, punya pengalaman baru, teman baru, keluarga, bisa belajar bahasa baru. Semoga besok bisa lebih menyenangkan lagi.. -by: Ahta Prayinda (yiyin)