Malam Peneguhan di hari Minggu Panggilan. Dok Ahta PrayindaPekalongan, Sebuah peristiwa - pengalaman hanya akan bermakna jika kita mau merefleksikannya dengan penuh iman dan harapan. Mungkin peristiwanya sederhana, mungkin pengalamannya biasa, tetapi ketika dimaknai terkuak misteri keindahan yang Tuhan sematkan di dalamnya. Inilah yang dialami oleh anak-anak peserta Minggu Panggilan pada Minggu Malam, 7 Mei 2017 dari pukul 19.00 -21.00 WIB. 

Mereka telah disiapkan secara rohani untuk memasuki dan memaknai hari Minggu Panggilan tak sekedar berpakaian ala imam, suster dan bruder. Mereka mengikuti rekoleksi Minggu Panggilan yang diadakan Minggu, 30 April 2017 di aula lantai 2 paroki, mereka mengikuti latihan drama sebagai sarana pengenalan terhadap aneka hidup bakti yang menjadi kekayaan Gereja Keuskupan Purwokerto, serta melaksanakan peran mereka sebagai imam, suster dan bruder dalam Misa Minggu Panggilan, Sabtu-Minggu, 6-7 Mei 2017 di Paroki Santo Petrus Pekalongan. Peristiwa-peristiwa itu bisa jadi biasa, tetapi menjadi luar biasa ketika kita benar-benar mau terbuka untuk memaknainya.

Merefleksikan peristiwa biar bermakna. Dok. Ahta PrayindaUsai Misa Minggu Panggilan di sore hari, anak-anak dan juga para anggota Misdinar Paroki St. Petrus Pekalongan diundang untuk berdinamika bersama di aula lantai 2 paroki. Dinamika ini diberi bingkai "Malam Peneguhan Refleksi Panggilan." Mereka yang hadir dalam Malam Peneguhan berkisar 70 anak. Acara dipandu oleh Fr. Juhas Irawan yang diawali dengan doa dan pemutaran Foto-foto mereka saat berperan sebagai imam, suster dan bruder. Ketika mereka melihat foto-foto mereka diputar, sembari diiringi lagu coldplay, teriak histeris, gelak tawa, sorak-sorai kebahagiaan tercipta malam itu. Tidak ada anak-anak yang bersedih, menyesal atau kecewa dengan apa yang mereka alami. Mereka sangat bergembira. Ketika frater bertanya, "Siapa yang ingin memakai baju imam, suster dan bruder lagi?," Banyak dari antara anak-anak mengacungkan jari dan menjawab, "Saya."

Frater membuka acara Malam Peneguhan. Dok. Ahta PrayindaKegembiraan itu sungguh menghangatkan kebersamaan kami di malam terakhir pengolahan kami dalam rangka Minggu Panggilan. Frater kembali mengguncang keceriaan anak-anak dengan menyanyi dan menari, "Jangan lelah."

Setelah anak-anak dihangatkan dengan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi (pengalaman mereka), giliran Romo Tri yang memberikan peneguhan mengenai Wajah Gereja Keuskupan Purwokerto melalui aneka hidup bakti yang ada di dalamnya. Romo Tri menerangkan secara singkat mengenai Imamat Umum dan Imamat Khusus, Panggilan imam Diosesan dan Ordo/Kongregasi, serta hidup selibat sebagai Suster dan Bruder. Romo Tri menyampaikan hal ini sebagai sarana internalisasi sekaligus memberikan asupan pengetahuan secara lebih holistik mengenai hidup bakti yang ada di Purwokerto. Setelah peneguhan mengenai hidup bakti, para suster SND yang hadir malam itu, turut serta berbagi pengalaman. Para suster berbagi pengalaman kegembiraan dalam panggilan. Dok. Ahta PrayindaBeberapa suster memperkenalkan identitas pribadi dan karyanya kepada anak-anak. Dan salah satu dari para suster, yakni Sr. M. Elfrida, SND diberi kesempatan untuk membagikan pengalamannya sebagai seorang suster. Dalam kesempatan sharing, Suster Elfrida bercerita mengenai kegembiraannya menjadi seorang suster, "Menjadi suster itu bahagia." Itu yang disampaikan kepada anak-anak dan diteguhkan dengan video perjalanan panggilannya sejak belum menjadi suster dan akhirnya menjadi suster (My Vocation, My Adventure). Anak-anak pun mendengarkan dengan perhatian. 

Anak-anak merenungkan pengalamannya dalam keheningan. Dok. Ahta PrayindaAcara Malam Peneguhan ditutup dengan refleksi bersama yang dipimpin oleh Rm. Tri Kusuma. Anak-anak diminta untuk memasuki suasana batin yang hening, sendiri tanpa bersinggungan dengan teman yang ada di sekitarnya. Suasana gelap mewarnai keheningan malam itu yang kemudian diterangi dengan beberapa lilin kecil untuk memberi suasana keheningan yang mendalam. Romo Tri mengajak anak-anak untuk membatinkan semua peristiwa yang telah dialami (internalisasi), menemukan satu dua perasaan yang dialami dan menyimpan di dalam kedalaman batinnya, sekaligus juga menyimpan dalam hati kalau-kalau terbesit satu keingin kecil "INGIN" menjadi imam, suster atau bruder. Romo Tri mengingatkan anak-anak untuk tidak memadamkan-membunuh benih itu tetapi sirami dan jagalah benih itu supaya bertumbuh dan berkembang di dalam hati. Tidak hanya itu, kedalaman batin anak-anak ditarik pada refleksi beberapa tahun yang akan datang untuk berfantasi-bermimpi, apa yang dirasakan ketika benar-benar telah menjadi imam, suster dan bruder. Kebahagiaan itulah yang ada. Bahagia untuk diri sendiri, bahagia pula orangtua dan Gereja. 

Refleksi ditutup dalam keheningan yang dibungkus dalam doa malam dan berkat untuk peziarahan selanjutnya.

Terimakasih anak-anak atas keterbukaan kalian ambil bagian dalam hari Minggu Panggilan ini. Kelompok paduan suara dari SMP Pius Pekalongan, Suster SND, dan SMA St. Bernardus. Terimakasih bapak dan ibu (para orangtua) yang telah merelakan anak-anaknya terlibat dalam acara ini. Doakan mereka selalu. Terimakasih Romo Paroki, RD. Martinus Ngarlan, RD. Martinus Maryoto, RD. Albertus Tri Kusuma, Fr. Juhas Irawan, Dewan Pastoral Paroki (Bidang IV, Bapak Sukardi). Terimakasih untuk Tim Kerja Panggilan (Bapak Ign. Harya S, Bapak FX. Bambang S, Bapak Fabius), Tim Kerja KKI/PIA (Lucia Sri Lestari Dwi Astuti), Tim Kerja Kepemudaan (Paulina Sri Haryanti), TK. St. Yosep (Sr. M. Elfrida, SND), Komunitas Suster SND Pekalongan, dan Tim Komsos Paroki St. Petrus Pekalongan, Tim Perlengkapan paroki.

 

Semoga benih ini tinggal tertanam dan bertumbuh....