Gereja Katolik St. Petrus

PAROKI PEKALONGAN

UBI PETRUS IBI CHRISTUS

Stasi

Stasi adalah paguyuban umat beriman atau persekutuan lingkungan- lingkungan yang berdekatan dan yang ditetapkan oleh Uskup berdasar usulan Dewan Pastoral Paroki. Secara khusus, di Paroki Pekalongan, yang disebut stasi adalah wilayah Gerejawi yang terletak di wilayah Kabupaten Pekalongan. Stasi memiliki nama yang diambil dari nama-nama orang kudus yang ada dalam tradisi Gereja.

Paroki Pekalongan memiliki 4 (empat) stasi:

  1. Stasi Karanganyar dengan pelindung St. Yohanes Rasul
  2. Stasi Kedungwuni dengan pelindung St. Agustinus
  3. Stasi Wiradesa dengan pelindung St. Mikael
  4. Stasi Sragi dengan pelindung St. Monika

STASI SANTA MONIKA SRAGI

 

AWAL LAHIRNYA UMAT STASI

Stasi Sragi merupakan wilayah Paroki Santo Petrus Pekalongan yang letaknya kurang lebih 20 kilometer ke arah  sebelah Barat Daya. Pada tahun 1950, tokoh yang pertama kali membawa agama Katolik yaitu seorang karyawan Pabrik Gula Sragi, berkebangsaan Belanda bernama Mr. Nduloe yang saat itu menjabat sebagai sinder di Pabrik Gula. Pada tahun 1954, pertama kali kunjungan ke rumah Bp. Sukandar, seorang penduduk asli desa Pasuruhan, sebagai mandor di Pabrik Gula yang mempunyai pengaruh cukup besar dengan masyarakat dan belum Katolik. Sejak saat itu rumah Bp. Sukandar dijadikan tempat untuk mengajarkan agama Katolik. Mulai tahun 1956 semua kegiatan berpindah ke rumah Bp, Am. Da’an. Ada perhatian dari Paroki Pekalongan yakni dengan menungaskan seorang guru pengajar agama Katolik bernama Bp. Hadi, berasal dari Tegal. Pelajaran agama diadakan tiap hari Minggu dan diikuti oleh anak-anak, remaja maupun dewasa. Setelah itu dilanjutkan oleh para Suster dan Pastor.

Selain mengajarkan agama dan Misa, Pastor dan Suster mengadakan kegiatan sosial, berupa pemberian pakaian layak pakai, membagikan makanan dan ada pengobatan gratis pada masyarakat setempat. Para Pastor kebangsaan Belanda yang pernah melakukan pelayanan  ke Pasuruhan dan Sragi antara lain: J.H. Van de Pass, MSC, J. Duray, MSC, J.A. Bosse, MSC, K.J. Veeger, MSC, J. Jotten, MSC, Th. Tangelder, MSC, P. Marques, MSC, H. Obbens MSC, A. Welling, MSC, H. Loogman, MSC, D. De Vette, MSC.

Pada tahun 1956 jumlah umat ada 15 KK atau kurang lebih 64 jiwa yang dibaptis oleh Pastor Belanda. Perkembangan sangat pesat terjadi saat penggembalaan Romo A. Wahyobawono, Pr. Pada saat itu sampai tahun 1976 hampir semua orang di Desa Pasuruhan beragama Katolik, terdiri dari 6 RT, berjumlah 500-an jiwa. Umat Sragi lebih sedikit. Para Romo Pribumi yang pernah dan masih melakukan pelayanan di Sragi dan Pasuruhan dari dulu hingga sekarang: Ign. Hadisiswoyo, MSC, J.S. Sukmana, MSC,  M. Adi Sutarno, MSC, FX. Yitno Puspohandaya, Pr, Cris Santi, MSC, A.E. Wigyo Seputro, MSC, St. Sumpono, MSC, R. Siswowiyono, MSC, F. Widyantardi, Pr, Al. Y. Sukirdi, MSC, Kris. Warsito, Pr, Ign. Budi Agus Triyono, Pr, Y. Joko Purwanto, Pr, Thomas Subandriyo, Pr, Cosmas Budi Raharjo, Pr, Al. Subekti, Pr, T. Puryatno, Pr, E. Untung, MSC, F. Agus Pramono, Pr, Stefanus Trisetyo, Pr, Bonifasius Abbas, Pr, Ag. Dwiyantoro, Pr, T. Mardi Usmanto, Pr, P. Bambang Widiatmoko, Pr, MB. Sheko Swandi M, Pr, Alb. Tri Kusuma, Pr, M. Maryoto, Pr.

PERKEMBANGAN STASI

Berawal dari penyebaran agama Katolik umat Stasi di Desa Pasuruhan, Kel. Purworejo, Kec. Sragi. Tahun 1960 semua kegiatan liturgi diadakan berpindah dari rumah ke rumah umat, baik yang belum baptis maupun yang sudah dibaptis. Salah satu tempat yang digunakan sebagai kegiatan liturgi umat adalah rumah Bp. FX. Soeparno di Desa Dukuh, Purwodadi. Tidak hanya di Pasuruan berkembang iman kekatolikan, di Sragi pun berkembang adanya. Ada seorang ibu yang sangat aktif, perhatian dan peduli pada mereka yang berkekurangan (sangat dekat dengan orang yang lemah dan miskin) serta semangat yang luar biasa dalam pelayanan untuk kepentingan Gereja. Namanya adalah Ibu Monica Tan Kwie Nio, ibu dari Ibu Clara G. Setiasih dan mempunyai menantu Bp. Yohanes Tan Liang Tjwan. Sejak tahun 1970 Perayaan Ekaristi dan pelajaran agama mulai menetap di rumah Ibu Monica. Pada waktu itu Bp. Hadi sudah tidak mengajar lagi dan digantikan oleh para guru pengajar yang lainnya, antara lain: Bp. Bison, Bp. E. Soewardo, Bp. Wagito, Frater TOPer: Fr. Frans Lamere, Fr. Sani Saliwardaya, Fr. Untung (alm). Sekarang yang mengajar pelajaran agama yaitu para prodiakon, antara lain: Bp. FX. Rusdiyanto, Bp. Y. Saryana dan Bp. Al. Mudiyono.

Menjadi seorang Katolik memang tidak mudah. Kadang waktu hujan pengajar belum tentu datang, jalan yang harus ditempuh juga tidak mudah karena masih banyak lubang dan berbatu, penerangan jalan pun kurang.

Pada masa itu, perayaan Ekaristi hanya diadakan sebulan sekali. Umat Pasuruan berbondong-bondong harus menempuh jarak 6 Km dengan berjalan kaki menuju Sragi hanya untuk merayakan Ekaristi, demikian pula mereka pulang sesudah ekaristi dengan berjalan kaki. Meski demikian, iman umat tetap bertahan dalam keterbatasan. Kendati mereka harus menempuh jarak yang jauh, mereka tetap bersyukur sebab tidak lagi bingung untuk merayakan Ekaristi. Semua itu berkat kebaikan Ibu Monika yang telah menyediakan tempatnya bagi kegiatan gereja.

“Karena begitu besar pengorbanan, perjuangan, keteladanan, peduli terhadap sesama dan mendampingi bagi para katekumen, bahkan mau mengantar ke Gereja Paroki, berkat semua usaha dan untuk mengenang jasa yang telah dilakukan oleh Ibu Monica demi kepentingan banyak umat di Stasi maka umat Stasi Sragi memilih nama Santa Monika sebagai pelindung Stasi. Inilah tanda kebaikan Allah melalui Ibu Monica bagi umat Stasi Sragi.

Keterlibatan umat dalam Perayaan Ekaristi terkadang berada di Gereja Katolik Comal. Hal itu disebabkan oleh dekatnya jarak dari Stasi St. Monika Sragi ke Comal (5 Km)  dibandingkan Sragi ke Pekalongan. Melalui keterlibatan itu, hubungan baik antara umat Stasi Sragi dan Stasi Comal terjadi. Namun, untuk Perayaan-perayaan besar seperti Ekaristi Natal dan Paskah, semua umat Stasi St. Monika Sragi mengikuti Ekaristi di Gereja Paroki Pekalongan. Mereka berangkat naik Truck meminjamg dari Pabrik Gula. Saat itu ada beberapa umat bekerja di Pabrik Gula bahkan sebagai ADM sehingga umat dipinjami  kendaraan tersebut untuk kegiatan gereja.  Sekarang mereka sudah tidak ada lagi. Dengan demikian kemandirian harus menjadi pilihan tak terelakkan.

Pada tanggal 5 Mei 1987 Stasi St. Monika Sragi membeli tanah pertanian seluas: 2080 m2 atau 15 m x 138 m dengan harga Rp. 4.500.000,00 dari swadaya umat.  Tanggal 28 Desember 1989 tanah pertanian tersebut diubah menjadi non pertanain dengan istilah pendaratan. Tanggal 24 April 1990 dibentuk panitia pembangunan yang pertama diketuai oleh Bp. Y. Sutrisna AP. Mereka mengajukan izin pembangunan rumah ibadat ke Bupati tapi gagal/ditolak. Tahun 1993 ADM Pabrik Gula Bp. Darmoko Bsc, membuat kapel di Kompleks Pabrik Gula Sragi. Setelah diberkati oleh Romo kapel tidak diperbolehkan karena ada protes dari oknum agama ke kantor Direksi Pabrik Gula Solo. Setelah itu dalam perjalanan mengenai rumah ibadat, dibuatkan kapel secara khusus disamping rumah Bp. Y. Tan Liang Tjwan oleh anak-anaknya. Situasi masyarakat pada saat itu kurang kondusif, tidak menyenangkan dan tidak aman. Ada peristiwa lempar-lemparan batu pada malam hari setelah selesai misa, bahkan pada waktu mau lebaran banyak kertas berserakan bekas petasan di depan Kapel Stasi.

Puji Tuhan, sekarang sudah aman. Tanggal 9 November 2000 melalui jasa Bp. Tasinem (umat Karanganyar), IMB Gereja Santa Monica Sragi turun. Tahun 2001 umat Stasi membentuk panitia pembangunan Gereja yang kedua diketuai oleh Bp. FX. Rusdiyanto. Mereka kembali membuat proposal permohonan dana yang ditandatanggani oleh Bp. Uskup Julianus Sunarka, SJ. Romo pendamping saat itu adalah Rm. FX. Yitno Puspohandoyo, Pr. Konsultan pembangunan Bp. Ir. Siswanto/Kilok.

Perjuangan dan jerih lelah harus ditempuh dan dilalui, pembangunan sudah dimulai sampai tahun 2003 (tahap yang ke IV) hasilnya cukup lumayan, tinggal membuat tembok. Tetapi dalam perjalanan tahap ini, ada oknum yang protes dan juga terpicu efek konflik SARA di Ambon dan Kalimantan, bom terorisme, akhirnya pembanguan terhenti. Pada tahun 2006 diakan usaha lagi pendekatan dan mendukung calon Bupati melalui pilkada dan juga segala prosedur dan syarat ketentuan dari pemerintah sudah dipenuhi tetapi tetap tidak dapat melanjutkan pembangunan dan tidak membuahkan hasil sampai sekarang. Karena ada oknum agama yang protes dan menyampaikan ke Bupati.

Umat Stasi Sragi sampai sekarang belum memiliki Gereja, tempat ibadat masih menggunakan rumah Kel. Bp. Y. Tan Liang Tjwan yang memang memberi ruang khusus sebagai Kapel.

Umat Stasi St. Monika Sragi pada tahun 2001 berjumlah 27 KK/ 75 jiwa. Misa diadakan 2x dalam sebulan, yaitu Sabtu Pertama dan Ketiga, pk. 17.00 WIB. Tahun 2009 ada pergantian kepengurusan Stasi, masa bakti 2009-2011. Romo pendamping Stasi, yaitu Rm. T. Mardi Usmantoro, Pr. Periode ini terjadi pengembangan keuangan Kas Stasi yang berkembang 2x lipat dari saldo awal. Ada rapat rutin pengurus Stasi tiap 2 bulan sekali bergilir di rumah umat. Misa diubah dan dimajukan pk.16.00 WIB agar umat  Pasuruhan tidak pulang kemalaman sehingga tidak kesulitan mencari transportasinya.

Pada tahun 2012 Puji Tuhan berkat tuntunan, perhatian dan pendampingan dari Rm. MB. Sheko Marlindo, Pr terbentuk kepengurusan baru, masa bakti 2012-2015. Pada periode ini banyak terjadi pembenahan secara administatif, baik dalam hal inventaris, liturgi, pelayanan, terlebih dalam hal keuangan. Untuk semua urusan Stasi berkembang semakin baik. Belum ada 1 tahun periode berjalan banyak berkat melimpah: Ada penerimaan Komuni Pertama, penerimaan Sakramen Krisma, pemberkatan rumah, baptisan bayi, pemberkatan perkawinan di Kapel Stasi dan pemberkatan jenasah. Umat semakin kaya di dalam merayakan perayaan gerejani. Selain itu, Umat tidak hanya berjibaku di stasinya sendiri. Setiap ada tawaran kegiatan dari Gereja Paroki Pekalongan, umat sedapat mungkin terlibat di dalamnya. Dalam pendataan terakhir, tahun 2015 umat Stasi St. Monika Sragi, berjumlah 37 KK/ 90 jiwa.

KEGIATAN UMAT STASI

            Seiring berjalan waktu dari tahun 2012 sampai sekarang, berkat perhatian dan dukungan penuh dari para Romo, Frater, juga dari dewan. Kegiatan di Stasi St. Monika Sragi, meliputi:

  1. Perayaan Ekaristi yang diadakan 2x sebulan, yaitu pada hari Minggu I dan ke III pukul 16.00 wib di Kapel Stasi.
  2. Ibadat Sabda diadakan 3x di Stasi St. Monika Sragi dipimpin oleh prodiakon. Jika ada frater TOPer, frater diberi kesempatan memimpin satu bulan 1x. Ibadat Sabda setiap Minggu Ke II dan ke IV di Kapel. Dan Sabtu ke II diadakan di Pasuruhan. Semua ibadat dilaksanakan pk. 16.00 wib.
  3. Setiap hari Kamis, pk. 17.00 wib, ada Pendalaman Iman dan latihan Kor. Pada bulan Maria diadakan doa Rosario. Kegiatan tersebut diadakan di Kapel dan bisa bergilir dari rumah ke rumah umat.
  4. Pelayanan dan pengiriman Komuni setiap hari Minggu setelah Ekaristi maupun Ibadat oleh prodiakon, bertugas secara bergiliran.
  5. Piket kebersihan Kapel, berlaku untuk seluruh umat dan dibuat  kelompok secara bergiliran untuk membersihkan Kapel tiap hari Minggu, jam disesuaikan oleh para petugas.
  6. Para ibu bergilir setiap Minggu menghias altar.
  7. Setiap 2 bulan ada acara kebersamaan, yaitu makan bersama seluruh umat Stasi selesai Ekaristi, dibagi 6 kelompok. Tujuannya ialah demi terciptannya kedekatan dan kebersamaan antar umat.
  8. Ada pelayanan pelajaran katekumen, Komuni Pertama, dan Penguatan. Semua itu dilayani dan dilaksanakan di Stasi setelah mendapatkan persetujuan dari Pastor Paroki.
  9. Kunjungan umat.

KEPENGGURUSAN STASI

Awal terbentuknya Stasi Santa Monika tidak memiliki kepengurusan. Menurut kisah para sesepuh, kegiatan Stasi baru dimotori oleh Ketua Stasi sejak:

  1. Tahun 1980 – 1985 sebagai Ketua Stasi, adalah Bp. D. Purwanto, Bsc.
  2. Tahun 1985 – 2012 Ketua Stasi Sragi, adalah Bp. Y. Sutrisna AP.
  3. Tahun 2012 – 2015 Ketua Stasi Sragi, adalah V. Liliana Suhendro.
  1. PENGURUS HARIAN
  1. Ketua 1/Pelaksana Harian  :  Veronica Liliana Suhendro
  2. Ketua 2                                   :  Thomas Koko Deswanto
  3. Sekretaris 1                            :  Aloysius Mudiyono
  4. Sekretaris 2                            :  Yohanes Saryana
  5. Bendahara 1                          :   Fransiska Manggar Muninggariah
  1. TIM KERJA
  1. Tim Kerja Liturgi, Katekese dan Kitab Suci
  1. Markus Togong Sitanggang
  2. Maria Yosefina Sugiyarti
  3. Fransiskus Xaverius Rusdiyanto
  1. Tim Kerja Kerasulan Awam serta Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan
  1. Matius Suharjo
  1. Tim Kerja Pendampningan Iman Anak dan Kaum Muda
  1. Dominikus Galih Anjas Bagaskoro
  2. Maria Magdalena Kartiningsih
  1. Tim Kerja Pelayanan Kematian (Pangrukti Layon)
  1. Yakobus Agus Widodo
  2. Fransiska Utami Soeparno
  1. Tim Kerja Sarana Prasarana
  1. Sub-tim Kerja Usaha Dana
  1. Roberta Susilowati
  2. Maria Yustina Sri Basuki
  3. Maria Rita Puji Utami
  1. Sub-tim Kerja Pemeliharaan Gedung dan Inventaris
  1. Yosep Wastubi
  2. Agustinus Hendrikus Mucholil
  3. Lukas Darsono
  4. Dominikus Rismono
  1. Sub-tim Kerja Urusan Rumah Tangga
  1. Maria Susmiati
  2. Maria Siti Sundari

Semua penggurus bergotong-royong, bekerja sama, dan saling melengkapi dalam mempersiapkan suatu perayaan mingguan maupun hari raya. Ada beberapa kesulitan yang dialami oleh umat dalam berkegiatan, antara lain keterbatasan jarak rumah yang berjauhan, umat sebagian besar sudah lanjut usia, kebanyakan 1 KK terdiri 1 jiwa dan sudah lanjut usia, anak OMK sebagian tinggal di luar kota untuk kuliah. Kendati begitu, OMK mulai bergerak untuk mengadakan kegiatan stasi. Demikian pula untuk PIA belum bisa berjalan sesuai harapan. Semoga untuk hari yang akan datang, makin semangat seperti Santa Monika, Santa Pelindung Stasi dan menjadi teladan dalam hidup doa dan pelayanan terhadap sesama terutama kepada Allah.

“ Allah yang berbelas kasih, hiburlah mereka yang menderita, air mata Santa Monika menggerakkan belas kasih-Mu untuk menobatkan puteranya, Santo Agustinus, kepada iman akan Kristus. Dengan bantuan doa mereka, bantulah kami berbalik dari dosa-dosa kami dan memperoleh pengampunan-Mu yang penuh belas kasih. Amin.”