Gereja Katolik St. Petrus

PAROKI PEKALONGAN

UBI PETRUS IBI CHRISTUS

Sejarah Paroki

Sebelum tahun 1927, “Gereja Misi Kristus Raja di Purwokerto” termasuk Vikariat Apostolik Batavia (Jakarta) dan berada di bawah pelayanan Tarekat Yesuit. Pada tahun 1927 kawasan ini diserahkan oleh Tarekat Yesuit kepada Tarekat Misionaris Hati Kudus (MSC). Dalam rangka serah terima penguasaan daerah karya misi dari Jesuit kepada MSC, Romo B Thien MSC, yang bersama dengan Romo BJJ Visser MSC dan Romo De Lange MSC, mendapat tugas membuka paroki Tegal. Dalam tugas penggembalaanya, Rm De Lange juga menjangkau seluruh daerah karisidenan Pekalongan, termasuk wilayah Pekalongan itu sendiri.

Meskipun jumlah umat sedikit dan dirasa kurang menarik untuk pengembangan misi, ada satu keluarga katolik yang bernama P Fischer yang memegang kas umat/ stasi Pekalongan. Pada tanggal 18 April 1928 dikeluarkan surat keputusan dari Gubenur Jendral tentang ijin perjalanan dinas pastor paroki setahun 12 kali dengan biaya ditanggung pemerintah. Dalam tugasnya Romo Thiens MSC diganti oleh Rm WJ Zeegers MSC yang tiba pada tanggal 12 Oktober 1929. Namun untuk berdirinya paroki baru sudah disiapkan tenaga yaitu Rm Nico Van Oers MSC. Rm Nico Van Oers MSC tiba pada tanggal 27 September 1930 dan bertempat tinggal di Tegal.

Pada tanggal 1 November 1930 Rm Nico Van Oers MSC mulai menetap di Pekalongan dan menempati rumah di sebelah utara jalan raya depan Stasiun. Mulailah dicatat dalam buku baptis pekalongan yaitu Leonardus Fredy Maramis sebagai yang pertama. Maria Kustilah Lebdati, sebagai yang kedua. Tanggal inilah yang dijadikan sebagai momen peresmian paroki pekalongan. Sementara itu pula tarekat para suster Notre Dame (SND) masuk ke Pekalongan dan terlibat dalam karya pendidikan dan kesehatan.

Perjalanan selanjutnya diwarnai dengan perjuangan untuk mendapatkan tanah guna mendirikan bangunan gereja. Dibidik sebidang tanah yang berbatasan dengan klinik gula (sekarang untuk Kondim 0710) di Jalan Imam Bonjol (sekarang jadi ruko) tetapi pihak masyarakat keberatan. Mgr BJJ Visser yang menjadi prefektur Apostolik melobi bupati Pekalongan (11 Januari 1933) dan mendapat kebebasan untuk memilih tanah. Akhirnya dipilih sebidang tanah yang terletak di sebelah Barat Daya Kaliloji dengan harga fl 1.788,25 yang dibayarkan ke kotapraja Pekalongan.

Pada tanggal 6 Juni 1936 kontraktor Fermon-Kuypers dipercaya untuk membangun gedung gereja dengan biaya fl 25.800,- Gereja tersebut menampung 250 umat. Peletakan batu pertama oleh Rm J Van Rooyen MSC pada tanggal 4 Agustus 1935. Sedangkan pemberkatan gedung gereja oleh Mgr BJJ Visser MSC pada tanggal 15 Desember 1935 dengan ditandai pemindahan sakramen mahakudus dari kapel susteran ke gereja.

Dalam perjalanan penjajahan Jepang, pelayanan kepada umat katolik terganggu karena hanya mengandalkan tenaga pribumi yaitu Rm Padmowidjojo MSC, Rm Lengkong Pr dan Rm Danoewijojo Pr. Pelayanan ini tidak tentu dan tergantung waktu kunjungan karena imam-imam inilah yang bebas dari interniran dan melayani seluruh vikariat apostolik Purwokerto.

Setelah kemerdekaan RI, pada bulan Februari 1949 ada serahterima pimpinan Gereja yaitu Mgr BJJ Visser ke romo W Schoemakers MSC. Dalam kepemimpinan beliau menekankan pentingnya partisipasi aktif dalam pembangunan gereja. Pada masa itu terbentuk berbagai organisasi seperti WKRI, Pemuda Katolik dan Partai Katolik. Umat katolikpun semakin berkembang. Terutama peningkatan dari golongan pribami dan Tionghoa. Sementara golongan Eropa menurun seperti pada th 1950 sejumlah 102 menjadi 45 pada tahun 1960.

Pada bulan Agustus 1961 Romo JH Van de Pas MSC datang ke Pekalongan menggantikan Rm Tangelder MSC. Pelayanan di kemudian hari tidak dikhususkan pada golongan Eropa, China maupun pribumi. Pelayanan ditujukan pada seluruh umat beriman. Apalagi pada masa pasca G 30 September, banyak golongan ingin dipermamdikan. Sejak April 1965 paroki Pekalongan digembalakan oleh pastor Welling MSC.

Sebagai tindak lanjut Konsili Vatikan II di paroki dibentuk Dewan Paroki yang bertugas menampung dan menciptakan partisipasi umat dalam kehidupan menggereja. Akibat gerakan G 30 S PKI kerukunan umat juga makin bertambah. Muncul pula kerukunan antar agama. Kegiatan yang dilakukan seperti Natalan bersama. Muncul pula pengelompokan umat berdasarkan kring dan stasi. Paroki makin berkembang berkat pelayanan para imam dan kedewasaan umat. Bahkan ada yayasan pangkruktilaya yang berdiri dengan akta tertanggal 1 April 1973. Tanggal 6 Maret 1974 terjadi pergantian Uskup dari Mgr W Schoemaker MSC ke Mgr PS Hardjosoemarto MSC. Pada periode ini juga berkembang karya pendidikan yaitu sekolah SMU Bernardus, pengelolaan radio Bernardus maupun ARO.

Selanjutnya peristiwa penting yang terjadi adalah renovasi pastoran dan aula yang dimulai dengan pembentukan panitia pada bulan Oktober 1992. Pastoran dengan 2 lantai dan aula seluas 218 m2 yang digunakan untuk kantor paroki, rapat dan pertemuan umat. Gedung ini diberkati oleh Mgr PS Hardjosoemarto MSC pada tanggal 27 Februari 1994.

Sampai tahun 2002 paroki Pekalongan juga menjangkau wilayah kabupaten Batang, seperti Limpung, Subah, Kedawung, Bawang, Plelen, Kuripan, Bandar, dsb. Juga munculnya pemekaran wilayah kring dan stasi seperti kring Kristiana dari Thomas, Kring Agustinus dan Emanuel dari Kring Magdalena, Kring Fransiskus dari Andreas. Stasi Kajen dari bagian Karanganyar.

Selanjutnya pada tanggal 17 Juli 2002 wilayah Batang yang semula merupakan bagian dari paroki Pekalongan diresmikan sebagai paroki ternsendiri oleh Mgr J Sunarko SJ.

Pada bulan April 2002 dibentuk panitia pembangunan Gereja yang akan merenovasi gedung gereja dan pastoran. Diketuai oleh Bp Soleh Dahlan panitia pembangunan ini melaksanakan tugasnya. Bulan Oktober 2002 bangunan Gereja dan Pastoran dibongkar. 1 Mei 2003 dilakukan peletakan batu pertama oleh Mgr J Sunarko SJ dan Bp Dr Ir Purnomo Yusgiantoro. Natal 2004 digunakan untuk Misa Natal yang dipimpin oleh Bp Uskup.